Wawancara Dengan SWELL

SWELL (kiri ke kanan: Satria, Joni, Arman & Ari)

SWELL (kiri ke kanan: Satria, Joni, Arman & Ari)

Simak wawancara kami bersama SWELL dengan personil lengkap: Satria (vokal), Arman (gitar), Ari (bass) & Joni (drums), sebelum dirilisnya debut EP mereka, Anestesi.

1. Kapan sih Swell terbentuk? Gimana cerita terbentuknya band ini…

Satria: Kalo sebelum-sebelumnya sih sejarah terkumpulnya personil Swell sendiri ketika gw, Arman, dan Joni (Satria Nugraha) jamming-jamming gak jelas pake musik surf-rock dengan vokal teriak-teriak. Haha. Waktu itu kami pake nama Awesome Dudes, dan pas ada bassist cewek (Etza Meisyara) namanya ditambah And The Black Magic Woman di belakangnya. Haha… Lucu-lucuan aja sih.

Terus karena waktu itu tahun 2010 ada acara Brit Night di kampus, dengan formasi Ari di bass, dengan resmi Swell terbentuk. Di acara itu kita jadi band yang ngecover lagu-lagu The Stone Roses. Background musik kami beragam banget, gw sendiri tadinya punya band metal, Arman punya band blues-rock, Ari basic-nya anak punk, dan Joni hip-hop. Semuanya bermuara ke Swell, ngebawain alternative-rock yang beda dari latar belakang personilnya masing-masing.

Arman: Gue inget banget waktu tahun pertama kuliah Satboy (Satria) ngasih denger lagu “Love Spreads”-nya Stone Roses. Semangat juga jadi pengen bawain sampe akhirnya ada kesempatan kita kumpulin Joni (drum) dan ngajak Ari main bass (waktu itu sebelumnya doi masih main gitar). Semua mulai dari situ.

Ari: Yoi, waktu acara Brit Night itu orang-orang berhimpun dan ngecover lagu-lagu band-band / artist British. Random sih, mulai dari Elton John sampe Spice Girls sampe Black Sabbath. Waktu itu kita paling junior di kampus, jadi maen buat pembuka 10 band lain mungkin.

Kayak kata Satria dan Arman, gua jadi ikutan di situ. Dari sana jalan terus, maju bareng pelan-pelan, jamming aja. Rata-rata lagu kita diulang terus tiap latian, free flowing dari masih riff acak, sampe jadi sendiri entah berapa bulan kemudian. Ya sampe sekarang ini.

2. Kalian khan anak FSRD ITB semua, dulu banyak sekali band keren yang lahir dari kampus tersebut, kalau sekarang kondisi scene di kampus kalian seperti apa?

Satria: Scene musik di kampus kami selalu berkembang dari waktu ke waktu, kebanyakan dari anak kampus kami ga selalu ngikutin ke mana arah zaman ngebawa, jadi musiknya beragam banget, mulai dari punk, reggae, psychedelic, metal, hip-hop, blues semua ada di waktu bersamaan dari zaman ke zaman. Setau gw akhir-akhir ini yang lagi sering dibuat acara elektronik-an.

Arman: Banyak yang berpotensi tapi biasanya kurang diseriusin, kurang komitmen. Angkatan muda sekarang banyak yg suka noise eksperimental—obscure. Hahaha…

Ari: Mungkin ada hubungannya sama acara Fancy Nite juga ya—syukuran wisudaan tiap 3-4 bulan sekali yang jadi ajang tampil orang-orang, plus acara macem Brit Night tadi, dulu ada banyak dengan tema macem-macem dan seru-seru (tapi sekarang sudah langka). Kadang dari situ ada yang jadi band betulan, meskipun lebih sering on-off.

Elektronic dan noise lagi rame sih, memang ada Etza yang aktif dari dulu, terus ada Napolleon—band psychedelic yang punya dimensi noise juga, dan belakangan ini yang sering main ada Konstipasi—agaknya cabang dari band Kultivasi (Jogja), karena personilnya si Wisnu kuliah di FSRD ITB.

3. Apa yang SWELL tawarkan di debut EP Anestesi yang akan dirilis nanti?

Joni: Chris Cornell yang sering nongkrong dengan Melly Goeslaw di kota Jakarta

Ari: Memang Anestesi (anaesthesia) itu secara etimologis artinya “without sensation”, ya demikian lah kira-kira gambaran musik kita di EP ini. Dan barangkali merujuk juga ke kebutuhan akan rasa tenang (atau insensitivitas) sebagai akibat dari kewalahan kita dalam memproses segala macam unsur informasi penting / ga penting yang jadi hambar semua, dalam kehidupan biasa kita setiap hari. Jenuh dari jengah.

Arman: Lagu yang kalian banget, hai para introvert. Haha…

EP ini memang kental dengan pengaruh musik Britpop 90-an. Tetapi itu hanya influence, bukan destinasi akhir Swell, kita gak membatasi influence hanya dari era atau genre tertentu.

Penggunaan bahasa Indonesia juga menjadi poin penting musik kita. Menurut gw, menggunakan bahasa asli atau native itu jauh lebih jujur dan tidak dibuat-buat. Lagipula kebanyakan band lokal juga pelafalan Inggris-nya belepotan, jadi kesannya jadi agak sok keren. Kita mencoba apa adanya aja lah.

Satria: Yang Swell tawarkan… Kalau secara musik kami menawarkan solusi untuk orang-orang yang jengah ataupun kurang peduli sama perkembangan musik sidestream yang pada akhirnya bikin aliran mainstreamnya sendiri.

Anestesi bercerita soal kegelisahan, yang hanya bisa ditenangi secara temporer, namun kegelisahan itu akan tetap ada sampe kapanpun. Terdengar putus asa, tapi mau gimana pun itu realita, dan realita itu ironi (ciee gitu). Haha…

4. Untuk Satria (vokalis), gw liat lirik-lirik yg loe tulis lumayan implisit, inspirasinya datang dari mana aja dan tentang apa saja?

Satria: Hmm… klo soal inspirasi, gw cukup tertarik sama gimana alam bawah sadar punya bahasanya tersendiri. Gw suka menginterpret mimpi-mimpi gw sehari-hari dari setiap detail objek-objek, cerita yang hadir dan impresi yang gw dapet dari sana, sehingga timbul solusi soal kegelisahan yang lagi gw hadapin di kehidupan, di saat gw bangun tidur.

Selain itu, dari kegelisahan juga mimpi bisa ngebentuk narasinya. Gw suka gimana lirik, bisa ngebangun sesuatu dan akhirnya ngebawa kita ke pattern kehidupan kita selanjutnya.

Makanya banyak kebetulan-kebetulan di kehidupan kita yang secara ga sadar dibawa oleh lirik, dan begitu kita tau ternyata ini semua “pas banget” sama lirik lagu yang kita suka dan kita interpret sendiri, semuanya kerasa surreal dan ajaib banget. Padahal mereka sebenarnya jadi salah satu faktor yang terus ngebawa hidup kita dan bekerja secara bawah sadar.

Jadi gw suka ngehadirin objek-objek yang ngebangun narasi berantakan tapi sebenarnya nyambung satu sama lain, kayak kita di saat lagi mimpi. Kalo alasan kenapa gw mengemasnya ke dalam bentuk ga eksplisit, sebenernya biar lebih bisa dibawa multiinterpretatif bagi pembaca.

Gw percaya lirik lagu itu punya semua orang yang dengerin. Ketika impresi yang dibangun lebih ditekankan, dilebur jadi satu sama musik, kita bisa menerjemahkan sebebas-bebasnya sesuai sama kondisi dan feel yang kita alamin.

Kalo ditanya liriknya overall soal apa, hmmm gw cuman bisa jawab liriknya soal kegelisahan masyarakat urban di umur-umur masih pengen ngelawan segala-galanya, sekaligus umur di mana lagi belajar-belajarnya. Hahaha…

5. Buat Arman (gitaris), permainan gitar loe cukup outstanding. Bisa di-share ke kita-kita sumber inspirasinya siapa aja?

Arman: Influence cukup beragam, sejalan perkembangan bermain dan melewati banyak fase. Sekarang sih lebih berusaha mencari ‘voice’ atau karakter kebanding ngejar teknis.

Antara influence yg gw suka saat ini J Mascis (Dinosaur.Jr) dengan progresi chord pop song dan solo yang lebih melodis kebanding show-off lick. Gaya bermain John Squire (The Stone Roses) juga cukup mempengaruhi. Gw suka gaya bermain surf-rock kaya’ Dick Dale. Gaya solo raw Jack White dari The White Stripes (not a fan of octave pedals though!). Gaya jangly dan intricate-nya Johnny Marr (The Smiths). Ya gw berusaha mengambil banyak influence. Biar gk ‘J Mascis wannabee’ bgt.

6. Apakah kalian sudah siap untuk tur keliling jelang perilisan EP Anestesi?

Arman: Siap banget. Kapan lagi bisa
Satria: Sigap.
Ari: Yoi.

7. Pertanyaan penting bagi kami, album2x apa aja yg lagi kalian dengerin?

Joni:
SantanaSupernatural (1999)
J DillaThe Shining (2006)

Arman:
MetallicaKill em’ All (1983)
Teenage FanclubBandwagonesque (1991)
ParakeetParakeet
Tofubeats Lost Decade (2013)
Jay ZThe Black Album (2003)

Satria:
PixiesWave of Mutilation: Best Of Pixies (2004)
MudhoneySuperfuzz Bigmuff (1988)
Echo And The BunnymenKilling Moon: Best of Echo And The Bunnymen (2007)
TrickyMaxinquaye (1995)
Dizzy GillespieThe Very Best of (2006)
SoreCentralismo (2005)

Ari:
Asobi SeksuCitrus (2006)
ChapterhouseWhirlpool (1991)
Massive AttackHeligoland (2010)
Black GrapeIt’s Great When You’re Straight (1995)

8. Pesan-pesan untuk para pembaca dan pendengar musik kalian…

Arman: Apa ya haha… Enjoy aja.
Joni: Semoga musik yang kami mainkan bisa berbuah pemikiran-pemikiran baru bagi yang menikmati.
Ari: Semoga punya efek katartik deh lagu-lagu kita ini.
Satria: Dengerin aja rilisan pertama Swell, mudah-mudahan ketagihan. Hehe…

* Follow akun Twitter Swell di: @Swellfed

Advertisements

Wawancara Dengan RAMAYANA SOUL

Ramayana Soul

Ramayana Soul

01. Kapan Ramayana Soul terbentuk?

Angga: Sekira tahun 2010. Kalau line-up band terbentuknya tahun 2012.

02. Cikal bakalnya Ramayana Soul sejak kapan sih?

Angga: Tahun 2006, pas gw mulai ngerjainnya secara solo.

03. Waktu itu (2006) ud manggung2x ato baru rekaman2x doang?

Angga: Baru rekam2x lagu doang.

04. Kalau lagu2x Ramayana Soul yang di Soundcloud itu direkamnya kpn?

Angga: Rata2x sekira tahun 2007-an.

05. Latar belakang loe mulai memainkan instrumen2x musik India dan Timur Tengah tuh gmn?

Angga: Awalnya ketika gw ngerasa gak “rock n roll” dan akhirnya gw lebih milih musik yang pas dengan diri gw saat ini.

06. Ramayana Soul bisa disebut sebagai proyek musik spiritual gak sih?

Angga: Klo untuk konsumsi pribadi sih iya.

07. Respon temen2x loe di Pestolaer terhadap proyek loe di Ramayana Soul gimana?

Angga: Mendukung. Fine-fine aja. Gk ada masalah.

08. Lu mulai menggunakan instrumen2x musik India dan Timur Tengah tuh sejak kapan?

Angga: Berangsur2x mulai dari tahun 2007, belajar alat musik, beserta budaya asli bawaannya, serta pemahaman agama untuk diri gw sendiri. Kalau untuk instrumen, semuanya gw pelajarin secara otodidak via YouTube dan internet.

09. Saat ini Instrumen musik India dan Timur Tengah yang lu kuasain ud berapa?

Angga: Gak nguasain bgt sih. Tapi gw ngerti tiga, yakni: sitar, harmonium dan tabla.

10. Bagaimana ceritanya kalian bisa ditarik masuk ke Ramayana Soul? (* menanyakan ke anggota band yang lain)

Ivon: Gw yang paling terakhir gabung, sekitar awal November 2013. Dikenalin Wawan, waktu gw wawancara dia bersama band-nya yg dulu di radio kampus gw. Kemudian nyusul dikenalin ke yg lain. Rekam lagu2x awal utk Ramayana Soul yakni lagu “Jaya Raga Jiwa” dan “Perlahan Terjatuh”.

Bimo: Gw juga salah satu personil awal di band ini. Kurang lebih dari thn 2009.

Irfan: Gw masuk 2013 awal. Diajak juga ma si Wawan. Sblmnya gw ma Wawan dulu juga sempat ngeband bareng, di band tribute Oasis gitu deh.

Wawan: Bisa ditarik di Ramayana Soul sih gw juga gak tau kenapa. Diajak Angga sih, awalnya dia SMS-in gw minta tolong isiin gitar, padahal sebelumnya gw blum kenal gitu ama doi, gw tau dia gitaris band “anu” doang, sama pernah diajakin nonton Ramayana Soul dulu ama si Gobet (Irfan), yaudah abis itu gabung deh..

11. Influence yang lu bawa ke Ramayana Soul apa aja sih?

Ivon: Sebelum kenal Ramayana Soul gw sendiri udah suka dengan musik-musik India sih. Terus gw juga suka George Harrison, Anoushka Shankar, Enya, Enigma.

Angga: Si Ivon untuk pelafalan maupun ucapan bahasa India juga lumayan fasih sih.

Bimo: Untuk drumming gw lebih banyak masukin unsur2x drum yang bernuansa spiritual dan sakral sih. Basic gw sendiri sih lebih ke rock.

Irfan: Gw pribadi suka Frank Sinatra, Johhny Cash, gw juga dengerin NOFX, Rancid, dan musik2x northen soul.

Wawan: Influence yang gw bawa ke Ramayana Soul ya paling kalo dari luarnya: John Frusciante, George Harrison, Oasis, L’Arc-en-Ciel. Kalo dari dalem gw suka bgt Iwan Fals.

Angga: Gw dapat banyak pencerahan dari Ray Charles dan lirik lagu-lagu Ian Brown yang judulnya “Illegal Attacks” dan “My Star”.

12. Oh iya, di album kalian nanti bakal ada lagu-lagu bahasa India gak sih?

Angga: Lebih banyak Bahasa Indonesia. Lebih banyak ngulas kehidupan sehari-hari.

13. Kontribusi kalian untuk penulisan lagu di Ramayana Soul sedalam apa?

Ivon: Gw sih saat ini lebih kasih refrensi untuk ritual2x / mantra / doa sblm manggung.

Bimo: Gw lebih ke aransemen drum sih. Cuz gw pas live maenin drum dan tabla juga.

Irfan: Klo gw kadang juga nyumbang tulisan2x berupa lirik mentah juga ke Angga.

Wawan: Semua berperan sih dalam penulisan lagu. Soalnya gitu, misalnya gw ada materi, terus gw kasih ke anak2x, yaudah diacak2 dah tuh lagu dan kita liat jadinya bakal kaya’ gmana. Hehe..

14. Ada gak pengalaman-pengalaman aneh / gaib / spritual ketika manggung bersama Ramayana Soul?

Wawan: Belom ada sih. Yang gaib2x takut ama Angga. Hahaha..

Angga: Kita bukan band pengundang mahkluk gaib. Hahaha

Irfan dan Bimo: Gak ada.

Ivon: Tapi band ini jg merupakan pengalaman baru buat gua. Karena lirik-liriknya juga lumayan dalam dan jadi pencerahan bagi gua.

15. Background musik loe pada sebelumnya apaan sih?

Ivon: Gw dengerin musik apa aja sih. Tapi utk tiga thn belakangan ini gw lg suka musik2x folk.

Wawan: Background musik gw banyak sih, apaan aja gw dengerin soalnya sampe Korea Jepang gw dngerin haha. 2NE1 keren brai..

16. Lu pada nganggap band ini sebagai apa?

Bimo: Gw nganggap musik band ini ya kaya’ gak jelas gitu. Hahaha

Wawan: Gw nganggep band ini sebagai keluarga.

Irfan: Gw nganggep band ini sih basic-nya ya rock sih.

17. Oh iya, khan selain instrumen musik India dan Timur-Tengah, Ramayana Soul juga pakai instrumen Gamelan. Apakah bisa disebut juga musik kalian sebagai world-music?

Angga: Enggak. Nggak ingin sampai ke sana. Karena kita masih ingin format band sih. Kita cuma pgn bereksperimen saja. 

18. Album-album yg lg kalian dengerin akhir-akhir ini apa aja?

Ivon: Album2x dari The Beatles, Led Zeppelin

Bimo: Gw kebetulan lg jarang dgrin albm musik. Palingan dengerin lagu2x di radio, itu jg gk tau lagu apaan. Hahaha…

Irfan: Gw lg dngerin George Harrison All Things Must Pass (1970), album barunya King Krule, sama In Love (2013) dari Peace.

Wawan: Gw lagi dengerin The Bones of What You Believe (2013) nya Chvrches sama album Heart (1998) nya L’Arc-en-Ciel.

Angga: Dari Ravi Shankar, Ustad Shahid Parvez Khan, Daud Mustafa, Rhoma Irama (awal), sampai ke The Black Keys, Kasabian, Procol Harum, The Doors, Mahavishnu Orchestra dan Electric Light Orchestra.

19. Harapan loe buat eksistensi Ramayana Soul ke depannya?

Ivon: Gw maunya org2x suka Ramayana Soul karena musiknya. Bukan karena imej ataupun hal lainnya.

Bimo: Ya semoga Ramayana Soul bisa memberi kesan-kesan baru buat musik Indonesia.

Irfan: Bisa naik, eksis dan tetap bertahan lah.

Wawan: Harapan gw ya terus berkarya aja ya, jalanin aja prosesnya. Hehe

20. Kalau album kalian sudah rilis, apakah ada niatan tur?

Angga: Mau

Ivon: Mau banget!

Irfan: Gw mau, krn gw suka jalan2x. Hahaha

Wawan: Kalo ada yang ngajak mah mau. Hahaha… Pertanyaan enak.

21. Menurut kalian di lokal ada gak sih band lokal sejenis dengan Ramayana Soul?

Ivon: Mungkin belum ada

Bimo: Idem

Irfan: Sepertinya belum ada

Angga: Ada di salah satu lagu milik Nada Fiksi.

Wawan: band lokal mirip siapa yak?? It’s Different Class mungkin.

22. Arti dari judul album kalian nanti, Sabdatanmantra apaan sih?

Ivon: Kata tersebut terbagi jadi tiga ‘Sabda’, ‘tan’ dan ‘Mantra’. Artinya “Benih Suara”. Filosofinya ya krn kita msh baru, kita ingin memperkenalkan musik kita ke khalayak ramai.

Irfan: Ada tiga unsur sih artinya. Apaan Ngga?

Angga: Di album ini ada tiga unsur: lagu menye-menye, lagu marah-marah, dan lagu tentang mantra/doa/Tuhan.

Wawan: gw gak tau tuh artinya. Haha. Soalnya pas pemilihan pilihan gw beda. Ya gw ambil suara terbanyak aja, demokrasi gitu. Hahaha.

23. Last words buat pembaca dan pendengar Ramayana Soul…

Bimo: Buat yg demen Ramayana, kalo pergi kemana-mana, jgn lupa utk nanya-nanya. Hahaha..

Ivon: Untuk penggemar musik Ramayana Soul tolong jangan menyebut diri mereka dengan istilah yang aneh2x!

Irfan: Buat yg dengerin, semoga suka aja sih.

Angga: Ya semoga albumnya laku aja sih. Hahaha

Wawan: Ya pesan gw buat pendengar dan pembaca, jangan ragu buat dengerin musik dalam negeri, karena musik dalam negeri gak kalah jauh sama di luar.. Sama dukung terus indie lokal sih.

Wawancara dengan ROMAN CATHOLIC SKULLS

RCS

RCS

Wawancara dengan Roman Catholic Skulls terkait album kedua mereka, Gospels, yang nanti akan dirilis oleh Wasted Rockers Recordings.

1. Apa yang Roman Catholic Skulls (RCS) tawarkan kepada para pendengar di Gospels?

Marcel: Suatu narasi yang eksploratif – Koleksi lagu yang cocok untuk dinikmati sebagai sebuah “album” dalam arti sebenarnya; dari depan sampai belakang tanpa jeda. Pengalaman yang indah, megah, mencekam, mengharukan, yang semoga dapat menawarkan sesuatu yang selalu baru setiap kali diputar ulang.

Danif: Secara musikal mungkin ada suatu konsep atau atau aturan yang secara tidak sadar kita pegang banget. Berbeda dengan dengan album pertama kami yang benar-benar bebas dan tiap track punya style yang beda2x, di sini secara gak langsung kita mencipatakan suatu kesatuan utuh secara sound. So, seperti yang sudah dijelaskan Marcel, Gospels adalah suatu sound experience yang berlangsung secara terus menerus tanpa jeda.

2. Apa yang menginspirasi RCS untuk membuat album bertemakan “gospel”?

Marcel: Sebenarnya lebih ke sound Organ Gereja yang menjadi benang merah di album ini. Tidak ada arti spiritual, apalagi relijius, dari judul ataupun nama band. Lagi-lagi secara naratif, seperti sebuah gospel reliji, lagu-lagu ini menawarkan sebuah narasi emosional sendiri yang bisa fiktif ataupun tidak, dan bisa diterima ataupun tidak – Yang pasti memberikan sebuah emosi yang pasti terbawa ketika selesai mendengarnya. Tidak mungkin mendengarkan album ini dari depan sampai belakang tanpa terasa “lelah” “dan “kenyang” seperti seorang turis yang memasuki lokasi-lokasi spiritual di negara-negara nun-jauh dari tempat mereka berasal. “Sesuatu” pasti terbawa pulang.

Danif: Kata Gospels sendiri sebenarnya adalah hal paling terakhir yang gw pikirkan. Gw lebih banyak fokus mencari tone dan atmosphere. Seperti yang tadi gw jelaskan di pertanyaan sebelumnya, secara gak langsung ada sebuah konsep yang akhirnya men-set pattern kita dalam membuat album ini. Mungkin sound Organ Gereja itu adalah sumber-nya. Karena dominan dan masuk ke kepala banget akhirnya secara gak sadar itu jadi acuan kita. Dari situ kita banyak menyisipkan layer2x lain yang sekiranya cocok untuk mendukung mood tersebut.

3. Pada awal RCS terbentuk tahun 2011, kalian bilang kalau proyek ini tidak akan serius, tapi nyatanya kalian akan merilis album kedua. Apakah ini tanda bahwa RCS beralih menjadi proyek serius?

Marcel: Mungkin “tidak serius” dalam arti kita tidak memiliki rencana untuk berproses seperti sebuah working band yang harus berpromosi, bermain live, dan melakukan hal-hal lain yang dilakukan band pada umumnya. Fokus kami hanya di eksplorasi suara dan jiwa satu sama lain untuk melihat karya apa yang keluar dari situ. Di bagian eksplorasi musikal itu, RCS sangat serius.

Danif: Arti “tidak serius” di sini mungkin lebih karena kita tidak ingin terbebani oleh target-target tertentu sebagaimana sebuah band dalam bisnis musik. Tentu saja kebutuhan berpromosi tetaplah penting, tapi tidak dalam konteks yang ambisius. Gw lebih menganggap RCS sebagai playground, di mana gw bisa bebas banget melakukan apa aja. Dan gak ada target bahwa RCS harus bisa begini or begitu. Mengalir apa adanya saja. Klo misalkan ada ide-ide baru, kita rembukan dan misalkan ok, ya kita jalani.

4. Sebelumnya reaksi dari penggemar kalian masing-masing terhadap RCS gimana sih?

Marcel: Cukup mengejutkan, apalagi dulunya kita hanya berencana mengeluarkan album unduh gratis versi digital. Tapi dari skena musik luar maupun dalam, ternyata sangat banyak orang-orang yang haus akan musik yang lebih dari sekedar 3 minute pop songs (meskipun tidak ada yang salah dari itu).

Danif: Respon penggemar cukup menyenangkan termasuk di berbagai media. Hanya saja gw agak risih dengan terminologi-terminologi experimental, noise, drone dll. yang biasa selalu diasosiasikan orang2x ketika mendengar musik ini di Indonesia. Sebenarnya gak salah, cuma mungkin kosa-kata media2 musik di Indonesia masing sangat terbatas. Sehingga klo ada sesuatu yang susah dideskripsikan secara musikal langsung disebut eksperimental. Padahal gw gak anggap RCS sebagai musik eksperimental karena segala detail suara yang ada di album ini benar-benar kita craft and design on purpose. Tidak ada unsur2x accidental seperti yang biasa terjadi di musik eksperimental.

5. Apakah ada kemungkinan RCS bakal tampil live?

Marcel: Kami sudah membicarakannya, tapi belum ada rencana serius. Pelan-pelan dulu. Untuk sekarang, kami masih harus lebih sering main live untuk satu sama lain dulu.

Danif: Gw sempat bercanda ke Marcel bahwa gw memperlakukan RCS ini seperti Daft Punk. Semacam duo electronics tapi lebih ke Soundscape. Gw lebih melihat-nya seperti itu. Mungkin dalam proses-nya bisa ada kolaborasi dengan live musician. Klo emang ada kesempatan buat live memang pasti bakal menyenangkan banget. Hanya saja sekarang kita lagi nge-riset mengenai teknis yang enak buat mengaplikasikan musik kita secara live. Yang jelas gw lagi coba banyak belajar dari band ULVER. Mereka awalnya khan Black-Metal. Cuma semakin ke sini semakin aneh, dan semakin mengarah ke elektronik. Dan itu juga mempengaruhi setup dari live performance mereka. Yang dulunya full-gitar, bass dan drum sekarang jadi banyak menggunakan sequencer.

6. List album / buku / film yang kalian sedang intens lahap akhir-akhir ini..

Marcel: Terakhir saya hanya sempat membaca novel World War Z dan beberapa komik Marvel era 90-an awal yang baru dipindahkan dari rumah orang tua ke tempat saya. Tidak ada yang begitu berat. Untuk film, saya sedang menggemari serial Axe Cop, DVD Millenium yang belum selesai-selesai, Breaking Bad, dan film terakhir Dragon Ball Z.

Danif: Saat ini lagi banyak baca buku maupun tulisan yang berhubungan dengan warfare technology dan modern surveillance. Lagi banyak nge-riset ke topik-topik ini karena selain untuk urusan pekerjaan, gw juga terobsesi banget sama hal-hal seperti ini. Untuk buku sekarang lagi baca Wired For War.

Interview w/ GUNBLASTING

Gunblasting

Gunblasting

Gunblasting rocks! Sayangnya masih sedikit orang yang notice akan mereka. So, simak wawancara kami dengan kolektif math-core ini jelang dirilisnya album Memoar.

01. Tolong perkenalkan diri kalian masing-masing kepada para pembaca; siapa dan instrumen apa yang dimainkan…

Pranadipa Karendra (gitar)
Syafriadi (vocal)
Apink (bass)
Gegi (gitar)
Sony (drum)

02. Mengapa scene chaotic-hardcore / mathcore / progressive-hardcore di Bandung tidak pernah sampai sebesar scene death-metal ataupun scene mosh-hardcore? Padahal selain A.L.I.C.E khan juga ada Caravan Of Anaconda, Garpitus (sekarang berganti nama menjadi Fix Me Icarus), 123SYF, Megamaut dan kalian…

Prana: Penikmatnya juga sedikit dibandingkan scene yang lain, tapi sekarang udah mulai banyak kok penikmatnya, ya semoga aja bisa merangkak berkembang.

Syaf: Aduuuh untuk yg ini bingung jawabnya. Hehe.

Apink: Kalo dibilang hadkor kaki lima, aih kayaknya bakal banyak yg suka. Hahaha.

Gegi: Selama genre tersebut bisa buat eargasm, apapun itu ok ok aja.

Sony: Sudah saatnya memperkenalkan Memoar.

03. Apa yang kalian tawarkan kepada para pendengar di materi-materi baru Gunblasting yang nanti bakal dimasukkan ke dalam album Memoar?

Prana: Untuk album Memoar gak ada yg beda secara signifikan sebenernya, paling mungkin sedikit ada tambahan thrash.

Syaf: Mudah2x-an bisa lebif fresh sesegar es cendol Elisabeth.

Apink: Enerjik.

Gegi: Easy, hard, mudah dicerna. Sisanya cepattttt.

Sony: Mari kita berhitung di album Memoar.

04. Akankah kalian bakal melakukan tur pasca perilisan album Memoar nanti?

Prana: Hahahaha.. Nah kalo masalah ini kita masih bergantung sama yang ngundang kali ya.

Syaf: Tour merupakan bagian dari promosi album, saya pribadi pengennya ada tour untuk Memoar.

Apink: Klo ada kesempatan sih dengan senang hati tidak akan menolak. Hehe.

Gegi: Selama blom dicekal.. Berangkattt. Hehe.

Sony: Saya sih ikutan aja.

05. Menurut kalian, film apa yang paling tepat soundtrack atau scoring-nya diisi oleh Gunblasting?

Prana: Film naon nya? Yamakasi (2001) meureun. Hahaha… Teuing.

Syaf: Saya belum pernah berekspektasi sejauh itu.

Apink: The New Kamen Rider. Hahaha.

Gegi: Noktah Merah Perkawinan series.

Sony: Larva (2005).

06. Saran buat para pendengar kalian nih; hal apa yang harus ada ketika mendengarkan musik Gunblasting?

Prana : Yang harus ada, kopi, rokok, dan pagi hari ketika akan gosok gigi.

Syaf: Saat di kamar mandi.

Apink: Bangun tidur sebelum mandi.

Gegi: Dengar kami saat sedang ada mata kuliah Psikologi Komunikasi.

Sony: Sesudah tunangan, sebelum masuk resepsi pernikahan.

07. Lagi dengerin album apa aja nih kalian akhir-akhir ini?…

Prana: Saya pribadi lagi dengerin:
/rifThe Best Of /rif (2004)
SSSLOTHHH
The Broderick
Project Wyze
Everytime I Die
Itu aja paling…

Syaf:
Every Time I DieEx Lives (2012)
MastodonThe Hunter (2011)
Gregory And The Hawk
Rusa Militan
ClutchEarth Rocker (2013)
ClutchBlast Tyrant (2004)

Apink:
GallowsDeath Is Birth EP (2011)
ClutchEarth Rocker (2013)
BaronessYellows & Green (2012)

Gegi:
Every Time I DieEx Lives (2012)
Every Time I DieNew Junk Aesthetic (2009)
The Black Dahlia MurderEverblack (2013)
KEN ModeEntrench (2013)
Blackhole
ConvergeAll We Love We Leave Behind (2012)

Sony:
Periphery
Kvelertak
Textures
Meshuggah

Interview w/ SOMNYFERA

Somnyfera

Somnyfera

Promo-interview dengan Bandung’s neo-prog / space-rock, SOMNYFERA, jelang dirilisnya album Paralyensmnyvm!!xx di bawah Wasted Rockers Recordings. Wawancara ini diwakilkan oleh Dika (vokal & gitar), Valchon (bass) & Reza (drums), minus Saat (gitar). Simak.

 01. Apa yang kalian harapkan nanti dari peluncuran album Paralyensomnyvm!!xx?

Reza: Harapan saya album Paralyensmnyvm!!xx dapat diterima & lanjut ke album2 berikutnya..Amiien..

Valchon: Untuk saat ini saya sih cuma berharap klo orang2 tau klo kita itu ada… Hehehehe

Dika: Saya pribadi berharap peluncuran album Paralyensmnyvm!!xx akan menjadi jembatan menuju realisasi album berikutnya. Karena konstruksi album ini tidak akan sempurna tanpa dua album berikutnya. Juga albumnya bisa sampai ke audiens yang lebih luas.

02. Bisa diceritakan proses masuknya personil baru, Saat (gitar)?

Reza: Dikarenakan lagu2 Somnyfera (SF) banyak lapisan-lapisan alunan senar gitar.. Jadi sangat-sangat membutuhkan pemain gitar yg lentik & ciamik.. Hehe

Valchon: Karena memang kita membutuhkan tenaga bantuan, sekitar dua tahun yang lalu kita mengajak dia berbagung

Dika: Prosesnya cukup dramatis, karena kala itu SF membutuhkan teknik melukis gitar di luar ranah imajinasi kami. Kebetulan saudara Valchon ada kenalan bernama Saat di kampusnya, ditawari dan dia menyanggupi dan langsung briefing-an bareng, latihan dan bertualang bareng menuju pusat semesta.

03. Apakah nanti kalian bakal menggelar tur setelah dirilisnya album Paralyensomnyvm!!xx?

Reza: Saya sediri seeh pengen sekali.. Hehe

Valchon: Bakal atau ngganya sih ngga tau, tp klo kepengen sih iya

Dika: Masih belum ada rencana, mungkin melihat respon dari umat manusia, nanti semua bisa dikondisikan.

04. Sebelumnya, bagaimana respon dari pendengar terhadap debut EP kalian Toylet Alyens (2009)?

Reza: Dari teman-teman dekat yg sudah mendengar kan sejauh ini responnya baik.. Gak tau kalau teman-teman jauh di pelosok Ujung Kulon..Hehe

Valchon: Alhamdulillah cukup baik, tp berhubung penyebarannya jg terbatas dan kebanyakan jg temen2, dan musiknya jg, secara roots-nya hampir mirip2, jd belum tau banyak jg testimoni dr sana-sini.

Dika: Mushroom!!xx

05. Mengapa di lirik kalian selalu mengangkat tema-tema sci-fi / fiksi ilmiah?

Reza: Berhubungan dengan filsafat lirik coba tanya ke habib Dika SF..hehe

Valchon: Coba tanya mas Dikei.. hehehe

Dika: Sebetulnya itu sebuah cita-cita yang murung, karena membuat novel sci-fi itu susah, jadi saya tuangkan ide-idenya ke dalam tema lagu-lagu SF. Dan setiap lagu merupakan chapter demi chapter, menuju sebuah bangunan cerita yang hanya saya sendiri yang mengerti. Selain itu tema sci-fi menurut saya justru sangat nyata dan ilmiah, sci-fi merupakan ramalan masa depan dan masa lalu yang futuristik, apabila diresapi dan dijadikan pakaian sehari-hari maka sci-fi akan menjadi buah delima mutiara.

06. Album apa saja yang menjadi soundtrack kalian akhir-akhir ini?

Reza:
Toxic HolocaustEvil Never Dies (2003)
GhostInfestissumam (2013)
Deep PurpleMachine Head (1972)

Valchon:
SepulturaChaos A.D (1993)

Dika: Kira-kira mix dari:
Advantage LucyEcho Park (2005)
My Sound LifeSquare Vision (2012)
Various Artists – OST Naruto (2007)
Syd Barretts/t (1974)
NirvanaNevermind (1991)
King CrimsonLizard (1970)

07. Last word buat para pembaca dan penikmat musik Somnyfera

Reza: Semoga musik SF bisa bermanfaat.. 🙂

Valchon: Semoga musik kami bisa mengenakkan teman2 disana sini.. 🙂

Dika: Mari berburu mutiara!!xx