SWELLS Perdengarkan Lagu Baru

Swells perdengarkan lagu baru berjudul “Anestesi”. Lagu ini direkam live ketika mereka tampil di acara BLUR Records Day,  Taman Hukum Unpad Dipati Ukur, Bandung, Desember 2014.

Apakah lagu “Anestesi” ini bakal masuk ke EP Anestesi yang bakal kami rilis nanti? Kita lihat saja… 😉

Direkam oleh Fernanda Gunsan
Di-mixing dan di-mastering oleh Fernanda Gunsan
Foto oleh Bluradio

Advertisements

Wawancara Dengan SWELL

SWELL (kiri ke kanan: Satria, Joni, Arman & Ari)

SWELL (kiri ke kanan: Satria, Joni, Arman & Ari)

Simak wawancara kami bersama SWELL dengan personil lengkap: Satria (vokal), Arman (gitar), Ari (bass) & Joni (drums), sebelum dirilisnya debut EP mereka, Anestesi.

1. Kapan sih Swell terbentuk? Gimana cerita terbentuknya band ini…

Satria: Kalo sebelum-sebelumnya sih sejarah terkumpulnya personil Swell sendiri ketika gw, Arman, dan Joni (Satria Nugraha) jamming-jamming gak jelas pake musik surf-rock dengan vokal teriak-teriak. Haha. Waktu itu kami pake nama Awesome Dudes, dan pas ada bassist cewek (Etza Meisyara) namanya ditambah And The Black Magic Woman di belakangnya. Haha… Lucu-lucuan aja sih.

Terus karena waktu itu tahun 2010 ada acara Brit Night di kampus, dengan formasi Ari di bass, dengan resmi Swell terbentuk. Di acara itu kita jadi band yang ngecover lagu-lagu The Stone Roses. Background musik kami beragam banget, gw sendiri tadinya punya band metal, Arman punya band blues-rock, Ari basic-nya anak punk, dan Joni hip-hop. Semuanya bermuara ke Swell, ngebawain alternative-rock yang beda dari latar belakang personilnya masing-masing.

Arman: Gue inget banget waktu tahun pertama kuliah Satboy (Satria) ngasih denger lagu “Love Spreads”-nya Stone Roses. Semangat juga jadi pengen bawain sampe akhirnya ada kesempatan kita kumpulin Joni (drum) dan ngajak Ari main bass (waktu itu sebelumnya doi masih main gitar). Semua mulai dari situ.

Ari: Yoi, waktu acara Brit Night itu orang-orang berhimpun dan ngecover lagu-lagu band-band / artist British. Random sih, mulai dari Elton John sampe Spice Girls sampe Black Sabbath. Waktu itu kita paling junior di kampus, jadi maen buat pembuka 10 band lain mungkin.

Kayak kata Satria dan Arman, gua jadi ikutan di situ. Dari sana jalan terus, maju bareng pelan-pelan, jamming aja. Rata-rata lagu kita diulang terus tiap latian, free flowing dari masih riff acak, sampe jadi sendiri entah berapa bulan kemudian. Ya sampe sekarang ini.

2. Kalian khan anak FSRD ITB semua, dulu banyak sekali band keren yang lahir dari kampus tersebut, kalau sekarang kondisi scene di kampus kalian seperti apa?

Satria: Scene musik di kampus kami selalu berkembang dari waktu ke waktu, kebanyakan dari anak kampus kami ga selalu ngikutin ke mana arah zaman ngebawa, jadi musiknya beragam banget, mulai dari punk, reggae, psychedelic, metal, hip-hop, blues semua ada di waktu bersamaan dari zaman ke zaman. Setau gw akhir-akhir ini yang lagi sering dibuat acara elektronik-an.

Arman: Banyak yang berpotensi tapi biasanya kurang diseriusin, kurang komitmen. Angkatan muda sekarang banyak yg suka noise eksperimental—obscure. Hahaha…

Ari: Mungkin ada hubungannya sama acara Fancy Nite juga ya—syukuran wisudaan tiap 3-4 bulan sekali yang jadi ajang tampil orang-orang, plus acara macem Brit Night tadi, dulu ada banyak dengan tema macem-macem dan seru-seru (tapi sekarang sudah langka). Kadang dari situ ada yang jadi band betulan, meskipun lebih sering on-off.

Elektronic dan noise lagi rame sih, memang ada Etza yang aktif dari dulu, terus ada Napolleon—band psychedelic yang punya dimensi noise juga, dan belakangan ini yang sering main ada Konstipasi—agaknya cabang dari band Kultivasi (Jogja), karena personilnya si Wisnu kuliah di FSRD ITB.

3. Apa yang SWELL tawarkan di debut EP Anestesi yang akan dirilis nanti?

Joni: Chris Cornell yang sering nongkrong dengan Melly Goeslaw di kota Jakarta

Ari: Memang Anestesi (anaesthesia) itu secara etimologis artinya “without sensation”, ya demikian lah kira-kira gambaran musik kita di EP ini. Dan barangkali merujuk juga ke kebutuhan akan rasa tenang (atau insensitivitas) sebagai akibat dari kewalahan kita dalam memproses segala macam unsur informasi penting / ga penting yang jadi hambar semua, dalam kehidupan biasa kita setiap hari. Jenuh dari jengah.

Arman: Lagu yang kalian banget, hai para introvert. Haha…

EP ini memang kental dengan pengaruh musik Britpop 90-an. Tetapi itu hanya influence, bukan destinasi akhir Swell, kita gak membatasi influence hanya dari era atau genre tertentu.

Penggunaan bahasa Indonesia juga menjadi poin penting musik kita. Menurut gw, menggunakan bahasa asli atau native itu jauh lebih jujur dan tidak dibuat-buat. Lagipula kebanyakan band lokal juga pelafalan Inggris-nya belepotan, jadi kesannya jadi agak sok keren. Kita mencoba apa adanya aja lah.

Satria: Yang Swell tawarkan… Kalau secara musik kami menawarkan solusi untuk orang-orang yang jengah ataupun kurang peduli sama perkembangan musik sidestream yang pada akhirnya bikin aliran mainstreamnya sendiri.

Anestesi bercerita soal kegelisahan, yang hanya bisa ditenangi secara temporer, namun kegelisahan itu akan tetap ada sampe kapanpun. Terdengar putus asa, tapi mau gimana pun itu realita, dan realita itu ironi (ciee gitu). Haha…

4. Untuk Satria (vokalis), gw liat lirik-lirik yg loe tulis lumayan implisit, inspirasinya datang dari mana aja dan tentang apa saja?

Satria: Hmm… klo soal inspirasi, gw cukup tertarik sama gimana alam bawah sadar punya bahasanya tersendiri. Gw suka menginterpret mimpi-mimpi gw sehari-hari dari setiap detail objek-objek, cerita yang hadir dan impresi yang gw dapet dari sana, sehingga timbul solusi soal kegelisahan yang lagi gw hadapin di kehidupan, di saat gw bangun tidur.

Selain itu, dari kegelisahan juga mimpi bisa ngebentuk narasinya. Gw suka gimana lirik, bisa ngebangun sesuatu dan akhirnya ngebawa kita ke pattern kehidupan kita selanjutnya.

Makanya banyak kebetulan-kebetulan di kehidupan kita yang secara ga sadar dibawa oleh lirik, dan begitu kita tau ternyata ini semua “pas banget” sama lirik lagu yang kita suka dan kita interpret sendiri, semuanya kerasa surreal dan ajaib banget. Padahal mereka sebenarnya jadi salah satu faktor yang terus ngebawa hidup kita dan bekerja secara bawah sadar.

Jadi gw suka ngehadirin objek-objek yang ngebangun narasi berantakan tapi sebenarnya nyambung satu sama lain, kayak kita di saat lagi mimpi. Kalo alasan kenapa gw mengemasnya ke dalam bentuk ga eksplisit, sebenernya biar lebih bisa dibawa multiinterpretatif bagi pembaca.

Gw percaya lirik lagu itu punya semua orang yang dengerin. Ketika impresi yang dibangun lebih ditekankan, dilebur jadi satu sama musik, kita bisa menerjemahkan sebebas-bebasnya sesuai sama kondisi dan feel yang kita alamin.

Kalo ditanya liriknya overall soal apa, hmmm gw cuman bisa jawab liriknya soal kegelisahan masyarakat urban di umur-umur masih pengen ngelawan segala-galanya, sekaligus umur di mana lagi belajar-belajarnya. Hahaha…

5. Buat Arman (gitaris), permainan gitar loe cukup outstanding. Bisa di-share ke kita-kita sumber inspirasinya siapa aja?

Arman: Influence cukup beragam, sejalan perkembangan bermain dan melewati banyak fase. Sekarang sih lebih berusaha mencari ‘voice’ atau karakter kebanding ngejar teknis.

Antara influence yg gw suka saat ini J Mascis (Dinosaur.Jr) dengan progresi chord pop song dan solo yang lebih melodis kebanding show-off lick. Gaya bermain John Squire (The Stone Roses) juga cukup mempengaruhi. Gw suka gaya bermain surf-rock kaya’ Dick Dale. Gaya solo raw Jack White dari The White Stripes (not a fan of octave pedals though!). Gaya jangly dan intricate-nya Johnny Marr (The Smiths). Ya gw berusaha mengambil banyak influence. Biar gk ‘J Mascis wannabee’ bgt.

6. Apakah kalian sudah siap untuk tur keliling jelang perilisan EP Anestesi?

Arman: Siap banget. Kapan lagi bisa
Satria: Sigap.
Ari: Yoi.

7. Pertanyaan penting bagi kami, album2x apa aja yg lagi kalian dengerin?

Joni:
SantanaSupernatural (1999)
J DillaThe Shining (2006)

Arman:
MetallicaKill em’ All (1983)
Teenage FanclubBandwagonesque (1991)
ParakeetParakeet
Tofubeats Lost Decade (2013)
Jay ZThe Black Album (2003)

Satria:
PixiesWave of Mutilation: Best Of Pixies (2004)
MudhoneySuperfuzz Bigmuff (1988)
Echo And The BunnymenKilling Moon: Best of Echo And The Bunnymen (2007)
TrickyMaxinquaye (1995)
Dizzy GillespieThe Very Best of (2006)
SoreCentralismo (2005)

Ari:
Asobi SeksuCitrus (2006)
ChapterhouseWhirlpool (1991)
Massive AttackHeligoland (2010)
Black GrapeIt’s Great When You’re Straight (1995)

8. Pesan-pesan untuk para pembaca dan pendengar musik kalian…

Arman: Apa ya haha… Enjoy aja.
Joni: Semoga musik yang kami mainkan bisa berbuah pemikiran-pemikiran baru bagi yang menikmati.
Ari: Semoga punya efek katartik deh lagu-lagu kita ini.
Satria: Dengerin aja rilisan pertama Swell, mudah-mudahan ketagihan. Hehe…

* Follow akun Twitter Swell di: @Swellfed

Koleksi Foto Live SWELL

This slideshow requires JavaScript.

Foto-foto live Swell. Diambil dari berbagai sumber. Terima kasih.

Lirik Lagu “Banal” Dari SWELL

Swell

Swell

* Swell mempublikasikan lirik lagu “Banal” untuk kita semua. Ditulis oleh Satria Prabhawa. Nantikan EP Anestesi dalam waktu dekat!

Banal

Terbius kilau kebenaran
kolektif di kala melawan
estetika ganjil dalam benturan
abstraksi tanpa arti dan nyawa

Saksi bisu tidak berwajah
bersuara dalam kesunyian
neurotik berbisik di balik meja
merdeka di bawah kekangan

Melawan
Menggila
Terdiam
Pergilah

Terbuai mengambang di awan
kulihat mereka tertawa
dibasuh indahnya citra bersinar
menjadi wajar dan tentu arah

Melawan
Menggila
Terdiam
Menghilang

SWELL Bakal Rilis Debut EP di WRR

SWELL (kiri ke kanan: Ari, Joni, Satria & Arman)

SWELL (kiri ke kanan: Ari, Joni, Satria & Arman)

Scene Britpop lokal di penghujung dekade 90-an cukup meriah, namun setelah itu memudar seiring makin menurun pula popularitas genre tersebut di Inggris. Selang belasan tahun, banyak band-band ‘Britpop’ yang reunian. Tapi apa kabar dengan band lokal?

Di lokal saat ini banyak band Britpop lokal yang sudah bubar maupun vakum, meski tidak sedikit yang kembali aktif. Tapi jangan lupakan juga band-band baru yang muncul dengan mengusung tema Britpop ‘revival’.

Swell adalah band alternative bentukkan anak-anak dari FSRD ITB Bandung. Band yang didirikan pada tahun 2010 ini berpersonilkan: Satria (vokal), Arman (gitar), Ari (bass) & Joni (drums).

Band asal Bandung ini memainkan alternative-rock dengan pengaruh kuat gerakan Madchester akhir 80-an dan Britpop pertengahan 90-an dari band-band macam: Northside, The Charlatans, Inspiral Carpets, Shed Seven & The Stone Roses.

Meski mengusung indie-rock Britania era awal 90-an, namun mereka mengaku memiliki latar musik yang berbeda-beda. “Background musik kami beragam banget. Semuanya bermuara ke Swell, ngebawain alternative-rock yang beda dari latar belakang personilnya masing-masing,” terang Satria, sang vokalis.

Untuk departemen lirik, Swell menulis seluruh lagunya dalam Bahasa Indonesia yang implisit dan cerdas. “Penggunaan bahasa Indonesia juga menjadi poin penting musik kita. Menurut saya, menggunakan bahasa asli atau native itu jauh lebih jujur dan tidak dibuat-buat,” ungkap Arman, sang gitaris.

Rencananya tahun 2014 ini Swell akan merilis debut EP mereka yang berjudul Anestesi di bawah Wasted Rockers Recordings.

Jadi apakah kalian sudah siap dengan kebangkitan scene Britpop lokal yang diusung oleh Swell?