Out now: LEDAKAN URBANISASI – Bintang Radio Bajakan EP (2018)

Ledakan Urbanisasi - Bintang Radio Bajakan

Ledakan Urbanisasi – Bintang Radio Bajakan

Bintang Radio Bajakan (2018), mini-album dari Ledakan Urbanisasi yang mengambil konsep sandiwara-radio / radio-drama.

Rilisan ini merupakan sebuah penghormatan untuk program-program sandiwara radio di RRI pada dekade 80-an sampai awal 90-an, serta keberadaan radio-radio ilegal (pirate-radio) di Indonesia saat itu.

Materi di Bintang Radio Bajakan (2018) diambil dari kumpulan cassette / tape home-recording milik Dede dari tahun 1989 dan 2004.

Artist: Ledakan Urbanisasi
Album title: Bintang Radio Bajakan
Format: EP / digital
Label: Wasted Rockers Recordings
Catalogue: WRR-14
Country: Indonesia
Release date: 29 November 2018
Genre: Alternative & Punk
Style: Radio-Drama / Sandiwara-Radio / Lo-Fi / Comedy

Tracklist:
01. Hallo Man, Welcome to Metal Area
02. Iklan Susu Kuda Liar
03. Mimpi Buruk
04. Bangunin Temen
05. Sandiwara Radio AADC
06. Tuk Tik Tak Tik Tuk
07. Lomba Mirip Ariel

Credits:
Artwork oleh Gilang Topan Firdaus

– “Hallo Man, Welcome to Metal Area” (track 1) direkam oleh Dede pada tahun 1989, ketika masih SD.
– track 2 – 7 direkam oleh Dede dan Issa pada tahun 2004 di Jatinangor, dengan menggunakan gitar akustik dan feature-phone (kalau tidak salah) Nokia 2300.
Advertisements

WRR Akan Rilis EP Terbaru dari UDANWATU

Udanwatu telah kembali! Duo Adit Bujbunen Al Buse (Serigala Jahanam / Karbala Bukan Fatamorgana / Sabedarah) dengan Halim Budiono (Cranial Incisored / Leftyfish / Hephaestus) ini akan merilis sebuah EP baru.

Di rilisan terbarunya ini Udanwatu berkolaborasi dengan Anita Siswanto, vokalis dari Kua Etnika & Sinten Remen (band yang dipimpin oleh Djaduk Ferianto).

Untuk menyesuaikan dengan proyek ini, nama Udanwatu diubah menjadi “Chronicles Of Udanwatu“.

Di EP terbarunya nanti Udanwatu akan bermain di wilayah sub-genre: Digital Hardcore, Speedcore, Gabber & Breakcore.

Format fisik dari EP anyar mereka nanti akan dirilis oleh Wasted Rockers Recordings. Cek sampel materi untuk EP terbaru Udanwatu, melalui video di atas.

Chronicles Of Udanwatu:
Adit Bujbunen Al Buse: Programming, Sampling.
Halim Budiono: Shredding, Sampling
Anita Siswanto: Vox

Udanwatu

This slideshow requires JavaScript.

Udanwatu adalah proyek experimental electronic-music dari Adit Bujbunen Al Buse (Serigala Jahanam / Karbala Bukan Fatamorgana / Sabedarah) dengan Halim Budiono (Cranial Incisored / Leftyfish / Hephaestus) yang didirikan pada tahun 2008.

Dalam waktu dekat Wasted Rockers Recordings akan merilis EP terbaru dari Udanwatu. Untuk EP terbarunya ini Udanwatu berkolaborasi dengan Anita Siswanto, vokalis dari Kua Etnika & Sinten Remen (band yang dipimpin oleh Djaduk Ferianto). Mari kita nantikan bersama!

Diskografi:
Various Artists – Maujud: The Soundtrack (Sinapang Masin Rekerdz / Yesnowave, 2008)
Durjana Saya Sempurna (Sinapang Masin Rekerdz, 2011)
Megamix Militia Vol. 3: Udanwatu – Durjana Saya Sempurna (Yesnowave, 2013)

Keluarga Baru Wasted Rockers Recordings: JANGGUT NAGA

 

Janggut Naga adalah sebuah band proyek iseng dari Galih / vokal [Deugalih & Folks], Joe / gitar [Terapi Urine / eks Godless Sympthoms / eks Serigala Jahanam], Galant / bass (70s Orgasm Club) & Dipo / drums [Serigala Jahanam / eks MellonYellow] pada tahun 2007.

Karena hanya sebatas proyek iseng, band ini cuma merekam dua buah lagu demo, yang direkam live di studio pada tahun 2007. Untuk urusan manggung pun, Janggut Naga hanya manggung sebanyak lima/enam kali, dalam periode tiga tahun eksistensi mereka (2007-2010).

Pertengahan 2015, lima tahun pasca bubarnya Janggut Naga pada tahun 2010, para personil band tersebut memutuskan reuni, untuk merekam ulang lagu-lagu lama mereka, dengan kualitas yang lebih baik, plus menciptakan lagu-lagu baru.

Untuk gaya bermusik, Janggut Naga memainkan gaya 90s bikers-rock / hard-rock / heavy-metal / alternative-metal ala: Monster Magnet, Orange Goblin, Corossion Of Conformity, Slash’s Snakepit, Black Label Society, Alice In Chains & Soundgarden.

Wasted Rockers Recordings berencana untuk merilis EP dari Janggut Naga; berisikan dua buah demo lawas milik mereka yang direkam tahun 2007, dua buah lagu lama yang direkam ulang dengan kualitas lebih baik, dua buah lagu baru, serta foto-foto dokumentasi Janggut Naga selama tiga tahun eksistensi mereka (2007-2010).

Entah apakah dengan EP tersebut Janggut Naga akan dijadikan band serius oleh para personilnya, atau reunian hanya untuk rekaman saja? Kita lihat nanti…  😉

Cek salah satu demo tahun 2007 milik Janggut Naga di atas.

Wawancara Dengan SWELL

SWELL (kiri ke kanan: Satria, Joni, Arman & Ari)

SWELL (kiri ke kanan: Satria, Joni, Arman & Ari)

Simak wawancara kami bersama SWELL dengan personil lengkap: Satria (vokal), Arman (gitar), Ari (bass) & Joni (drums), sebelum dirilisnya debut EP mereka, Anestesi.

1. Kapan sih Swell terbentuk? Gimana cerita terbentuknya band ini…

Satria: Kalo sebelum-sebelumnya sih sejarah terkumpulnya personil Swell sendiri ketika gw, Arman, dan Joni (Satria Nugraha) jamming-jamming gak jelas pake musik surf-rock dengan vokal teriak-teriak. Haha. Waktu itu kami pake nama Awesome Dudes, dan pas ada bassist cewek (Etza Meisyara) namanya ditambah And The Black Magic Woman di belakangnya. Haha… Lucu-lucuan aja sih.

Terus karena waktu itu tahun 2010 ada acara Brit Night di kampus, dengan formasi Ari di bass, dengan resmi Swell terbentuk. Di acara itu kita jadi band yang ngecover lagu-lagu The Stone Roses. Background musik kami beragam banget, gw sendiri tadinya punya band metal, Arman punya band blues-rock, Ari basic-nya anak punk, dan Joni hip-hop. Semuanya bermuara ke Swell, ngebawain alternative-rock yang beda dari latar belakang personilnya masing-masing.

Arman: Gue inget banget waktu tahun pertama kuliah Satboy (Satria) ngasih denger lagu “Love Spreads”-nya Stone Roses. Semangat juga jadi pengen bawain sampe akhirnya ada kesempatan kita kumpulin Joni (drum) dan ngajak Ari main bass (waktu itu sebelumnya doi masih main gitar). Semua mulai dari situ.

Ari: Yoi, waktu acara Brit Night itu orang-orang berhimpun dan ngecover lagu-lagu band-band / artist British. Random sih, mulai dari Elton John sampe Spice Girls sampe Black Sabbath. Waktu itu kita paling junior di kampus, jadi maen buat pembuka 10 band lain mungkin.

Kayak kata Satria dan Arman, gua jadi ikutan di situ. Dari sana jalan terus, maju bareng pelan-pelan, jamming aja. Rata-rata lagu kita diulang terus tiap latian, free flowing dari masih riff acak, sampe jadi sendiri entah berapa bulan kemudian. Ya sampe sekarang ini.

2. Kalian khan anak FSRD ITB semua, dulu banyak sekali band keren yang lahir dari kampus tersebut, kalau sekarang kondisi scene di kampus kalian seperti apa?

Satria: Scene musik di kampus kami selalu berkembang dari waktu ke waktu, kebanyakan dari anak kampus kami ga selalu ngikutin ke mana arah zaman ngebawa, jadi musiknya beragam banget, mulai dari punk, reggae, psychedelic, metal, hip-hop, blues semua ada di waktu bersamaan dari zaman ke zaman. Setau gw akhir-akhir ini yang lagi sering dibuat acara elektronik-an.

Arman: Banyak yang berpotensi tapi biasanya kurang diseriusin, kurang komitmen. Angkatan muda sekarang banyak yg suka noise eksperimental—obscure. Hahaha…

Ari: Mungkin ada hubungannya sama acara Fancy Nite juga ya—syukuran wisudaan tiap 3-4 bulan sekali yang jadi ajang tampil orang-orang, plus acara macem Brit Night tadi, dulu ada banyak dengan tema macem-macem dan seru-seru (tapi sekarang sudah langka). Kadang dari situ ada yang jadi band betulan, meskipun lebih sering on-off.

Elektronic dan noise lagi rame sih, memang ada Etza yang aktif dari dulu, terus ada Napolleon—band psychedelic yang punya dimensi noise juga, dan belakangan ini yang sering main ada Konstipasi—agaknya cabang dari band Kultivasi (Jogja), karena personilnya si Wisnu kuliah di FSRD ITB.

3. Apa yang SWELL tawarkan di debut EP Anestesi yang akan dirilis nanti?

Joni: Chris Cornell yang sering nongkrong dengan Melly Goeslaw di kota Jakarta

Ari: Memang Anestesi (anaesthesia) itu secara etimologis artinya “without sensation”, ya demikian lah kira-kira gambaran musik kita di EP ini. Dan barangkali merujuk juga ke kebutuhan akan rasa tenang (atau insensitivitas) sebagai akibat dari kewalahan kita dalam memproses segala macam unsur informasi penting / ga penting yang jadi hambar semua, dalam kehidupan biasa kita setiap hari. Jenuh dari jengah.

Arman: Lagu yang kalian banget, hai para introvert. Haha…

EP ini memang kental dengan pengaruh musik Britpop 90-an. Tetapi itu hanya influence, bukan destinasi akhir Swell, kita gak membatasi influence hanya dari era atau genre tertentu.

Penggunaan bahasa Indonesia juga menjadi poin penting musik kita. Menurut gw, menggunakan bahasa asli atau native itu jauh lebih jujur dan tidak dibuat-buat. Lagipula kebanyakan band lokal juga pelafalan Inggris-nya belepotan, jadi kesannya jadi agak sok keren. Kita mencoba apa adanya aja lah.

Satria: Yang Swell tawarkan… Kalau secara musik kami menawarkan solusi untuk orang-orang yang jengah ataupun kurang peduli sama perkembangan musik sidestream yang pada akhirnya bikin aliran mainstreamnya sendiri.

Anestesi bercerita soal kegelisahan, yang hanya bisa ditenangi secara temporer, namun kegelisahan itu akan tetap ada sampe kapanpun. Terdengar putus asa, tapi mau gimana pun itu realita, dan realita itu ironi (ciee gitu). Haha…

4. Untuk Satria (vokalis), gw liat lirik-lirik yg loe tulis lumayan implisit, inspirasinya datang dari mana aja dan tentang apa saja?

Satria: Hmm… klo soal inspirasi, gw cukup tertarik sama gimana alam bawah sadar punya bahasanya tersendiri. Gw suka menginterpret mimpi-mimpi gw sehari-hari dari setiap detail objek-objek, cerita yang hadir dan impresi yang gw dapet dari sana, sehingga timbul solusi soal kegelisahan yang lagi gw hadapin di kehidupan, di saat gw bangun tidur.

Selain itu, dari kegelisahan juga mimpi bisa ngebentuk narasinya. Gw suka gimana lirik, bisa ngebangun sesuatu dan akhirnya ngebawa kita ke pattern kehidupan kita selanjutnya.

Makanya banyak kebetulan-kebetulan di kehidupan kita yang secara ga sadar dibawa oleh lirik, dan begitu kita tau ternyata ini semua “pas banget” sama lirik lagu yang kita suka dan kita interpret sendiri, semuanya kerasa surreal dan ajaib banget. Padahal mereka sebenarnya jadi salah satu faktor yang terus ngebawa hidup kita dan bekerja secara bawah sadar.

Jadi gw suka ngehadirin objek-objek yang ngebangun narasi berantakan tapi sebenarnya nyambung satu sama lain, kayak kita di saat lagi mimpi. Kalo alasan kenapa gw mengemasnya ke dalam bentuk ga eksplisit, sebenernya biar lebih bisa dibawa multiinterpretatif bagi pembaca.

Gw percaya lirik lagu itu punya semua orang yang dengerin. Ketika impresi yang dibangun lebih ditekankan, dilebur jadi satu sama musik, kita bisa menerjemahkan sebebas-bebasnya sesuai sama kondisi dan feel yang kita alamin.

Kalo ditanya liriknya overall soal apa, hmmm gw cuman bisa jawab liriknya soal kegelisahan masyarakat urban di umur-umur masih pengen ngelawan segala-galanya, sekaligus umur di mana lagi belajar-belajarnya. Hahaha…

5. Buat Arman (gitaris), permainan gitar loe cukup outstanding. Bisa di-share ke kita-kita sumber inspirasinya siapa aja?

Arman: Influence cukup beragam, sejalan perkembangan bermain dan melewati banyak fase. Sekarang sih lebih berusaha mencari ‘voice’ atau karakter kebanding ngejar teknis.

Antara influence yg gw suka saat ini J Mascis (Dinosaur.Jr) dengan progresi chord pop song dan solo yang lebih melodis kebanding show-off lick. Gaya bermain John Squire (The Stone Roses) juga cukup mempengaruhi. Gw suka gaya bermain surf-rock kaya’ Dick Dale. Gaya solo raw Jack White dari The White Stripes (not a fan of octave pedals though!). Gaya jangly dan intricate-nya Johnny Marr (The Smiths). Ya gw berusaha mengambil banyak influence. Biar gk ‘J Mascis wannabee’ bgt.

6. Apakah kalian sudah siap untuk tur keliling jelang perilisan EP Anestesi?

Arman: Siap banget. Kapan lagi bisa
Satria: Sigap.
Ari: Yoi.

7. Pertanyaan penting bagi kami, album2x apa aja yg lagi kalian dengerin?

Joni:
SantanaSupernatural (1999)
J DillaThe Shining (2006)

Arman:
MetallicaKill em’ All (1983)
Teenage FanclubBandwagonesque (1991)
ParakeetParakeet
Tofubeats Lost Decade (2013)
Jay ZThe Black Album (2003)

Satria:
PixiesWave of Mutilation: Best Of Pixies (2004)
MudhoneySuperfuzz Bigmuff (1988)
Echo And The BunnymenKilling Moon: Best of Echo And The Bunnymen (2007)
TrickyMaxinquaye (1995)
Dizzy GillespieThe Very Best of (2006)
SoreCentralismo (2005)

Ari:
Asobi SeksuCitrus (2006)
ChapterhouseWhirlpool (1991)
Massive AttackHeligoland (2010)
Black GrapeIt’s Great When You’re Straight (1995)

8. Pesan-pesan untuk para pembaca dan pendengar musik kalian…

Arman: Apa ya haha… Enjoy aja.
Joni: Semoga musik yang kami mainkan bisa berbuah pemikiran-pemikiran baru bagi yang menikmati.
Ari: Semoga punya efek katartik deh lagu-lagu kita ini.
Satria: Dengerin aja rilisan pertama Swell, mudah-mudahan ketagihan. Hehe…

* Follow akun Twitter Swell di: @Swellfed